Sejarah Kerajaan Pajajaran

Posted by Aris Fourtofour on Jumat, 25 Januari 2013

Sejarah Kerajaan Pajajaran- Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribukotanya di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak.

Sejarah Kerajaan Pajajaran
Berdasarkan alur Sejarah Galuh, Kerajaan Pajajaran berdiri setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475. Kenapa demikian? Karena sepeninggal Rahyang Wastu Kencana kerajaan Galuh dipecah dua diantara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Pajajaran atau Pakuan Pajajaran beribukota di Pakuan (Bogor) di bawah kekuasan Prabu Susuktunggal (Sang Haliwungan) dan Kerajaan Galuh yang meliputi Parahyangan tetap berpusat di Kawali di bawah kekuasaan Dewa Niskala (Ningrat Kancana). Oleh sebab itu pula Prabu Susuk Tunggal dan Dewa Niskala tidak mendapat gelar “Prabu Siliwangi”, karena kekuasan keduanya tidak meliputi seluruh tanah Pasundan sebagaimana kekuasan Prabu Wangi dan Rahyang Wastu Kancana (Prabu Siliwangi I).

Cikal Bakal Kerajaan Pajajaran

Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
  • Prasasti Batu Tulis, Bogor
  • Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
  • Prasasti Kawali, Ciamis
  • Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
  • Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.
Daftar raja Pajajaran
  1. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
  2. Jaya Dewata / Prabu Siliwangi II (1482 – 1521)
  3. Surawisesa (1521 – 1535)
  4. Ratu Dewata (1535 – 1543)
  5. Ratu Sakti (1543 – 1551)
  6. Raga Mulya (1567 – 1579)
Keruntuhan

Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya jaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi II). Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di wilayah yang mereka namakan Cibeo Lebak Banten. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati, yang berjumlah 14 orang :

Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati

1 Darmaraja 1042-1065

2 Langlangbumi 1065-1155

3 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155-1157

4 Darmakusuma 1157-1175

5 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175-1297

6 Ragasuci 1297-1303

7 Citraganda 1303-1311

8 Prabu Linggadéwata 1311-1333

9 Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 (menantu no. 8)

10 Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350

11 Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 1350-1357 (tewas dalam Perang Bubat)

12 Prabu Bunisora 1357-1371 (paman no. 13)

13 Prabu Niskala Wastu Kancana 1371-1475 (anak no. 11)

14 Prabu Susuktunggal 1475-1482

Penyatuan kembali Sunda-Galuh

Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).

Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.
Artikel Terkait
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Sejarah Kerajaan Pajajaran ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.sejarahdunia.info/2013/01/sejarah-kerajaan-pajajaran.html

Bookmark and Share

19 comments... Baca dulu, baru komentar

oncom gondrong mengatakan...

sip, singkat tapi jelas........yang lebih lengkapnya ada gak?

Aris Fourtofour mengatakan...

Makasih.. Ada, tapi terlalu panjang untuk dipahami..
Makanya disingkat biar gampang memahaminya :)

@lisnawa_pgs mengatakan...

menarik untuk dibaca

Aris Fourtofour mengatakan...

makasih :)

anggodo mengatakan...

sejarah, merupakan Identitas kita sebagai anak bangsa, mustahil untuk bisa menjadi bangsa ya di hormati bangsa2 lain jika jatidirinya saja tidak tau. Trimakasih, lewat artikel singkat ini sudah mampu memberikan pencerahan.

Aris Fourtofour mengatakan...

Sama-sama mas anggodo, senang bisa berbagi informasi bermanfaat bagi sesama :)

achonk mengatakan...

Pajaran bukan ajaran hindu melaikan sunda wiwitan makanya di tanah sunda tidak ditemukan candi.

abah wiranta mengatakan...

di daerah sunda ada candi yaitu candi cangkuang di garut

kanaya roland mengatakan...

ada yang tahu siapa Ki Sancang? Mohon bagi informasinya...

Aris Fourtofour mengatakan...

Nama Kian Santang atau ki sancang sudah melegenda di daerah Pasundan terutama dari cerita lesan kependekaran atau dunia persilatan.

Kisah dari Prabu Kian Sancang saat ini juga tidak lepas dari kisah spiritual dan mistis terutama pada petilasan keramat Prabu Kian Santang atau kian sancang. Petilasan Prabu Kian Santang lebih dikenal dengan nama, makam Godog Syeh Sunan Rahmat Suci yang mana berdiri di sebuah bukit di wilayah Garut.

Kisah Prabu Kian Santang, sebenarnya pertama kali dikisahkan oleh Kakaknya Prabu Cakrabuana (Walang Sungsang) ketika menyebarkan Islam di tanah Cirebon dan Pasundan. Prabu Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran (sekarang Kota Bogor). Pada usia 22 tahun tepatnya tahun 1337 masehi Prabu Kian Santang diangkat menjadi dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor.

bangbara hati mengatakan...

nama dan gelar kian santang itu banyak.mohon informasinya donk apa z nama dan gelarnya..thanks..

Mamandar mengatakan...

Kalau nggak salah kian santang itu nama gelar atau julukan. Jadi menurut saya mungkin ada beberapa orang yang nama julukannya Kian Santang. Soalnya ada beberapa versi cerita tentang Kian Santang yang berbeda waktu hidupnya.

oh nikmatnya mengatakan...

Trims,
nambah ilmu dikit gan,

Aris Fourtofour mengatakan...

Sama-sama gan, terima kasih juga udah berkunjung :)

ayu bella mengatakan...

ayu seeneenng dgn seejarah2 ini tambah penasaran pgn tau semuanya , ceritain semuanya dong biar tambahh jelas dan tau kisah keseluruhannya,...
byk jg gpp ko ...

Sonedev Ardashir mengatakan...

Menurut mitos yang juga kejadian sesungguhnya.....
Sang Ratu Jayadewata Sri Baduga Maharaja "Prabu Silihwangi" dan Prabu Surya Kancana (Rangga Mulya) tiidak mati secara fisik. Mereka berdua, karena begitu dekatnya dengan Sang Pencipta, diizinkan tetap hidup dan mereka masuk ke dalam Alam Astral atau bisa juga Alam Khusus yang tiada satu orang pun yang tahu.
Kemungkinan terkuat adalah di area Hutan Sancang. Menampakkan diri di alam manusia dalam ujud Macan Putih atau Macan Hitam (Kumbang).

Aceng Mumu mengatakan...

sudah sedikit ada pencerahan tapi kalau bisa sejarah pajajaran ini harus dikupas lebih lengkap atau setidak ada referensi buku sejarah yang harus dibaca atau dipelajari agar sejarah pajajaran bisa pelajari supaya alur sejarah ini tidak ngawur, harus diingat sekarang banyak orang yang mengaku keturunan prabu siliwangi apa dan bagai mana prabu Siliwangi yang sebenarnya belum dapat dipastikan kebenarya.

Rey Aldie mengatakan...

Ada yang tau tidak gelar gelar di kerajaan padjajaran itu apa saja yah gelarnya ? Butuh pencerahan yang serius kang ..
Saya Reyaldy dari Cirebon
Barangkali ada yang mau sharing bisa menghubungi nomer di bawah ini :
089649652602

Dasa Muhargi mengatakan...

Belum saat fakta dan kebenaran kerajaan pajajaran terkuak, tpi Insyaallah suatu saat nanti akan ada yang membebrkan nya secara gamblang tentang kerajaan pajajaran ini oleh titisan Pajajaran, Galuh Pakuan dan Dan kerajaan Islam Galuh. mudah2an Allah meridonya dan Eyang Prabu Juga mengijinkan nya.

Poskan Komentar

Jangan lupa tinggalkan comment yaa :)