Sejarah Tari Remo Dari Jawa Timur

Posted by Aris Fourtofour on Kamis, 21 Agustus 2014

Sejarah Tari Remo Dari Jawa Timur- Indonesia kaya akan budaya dan keseniannya. Salah satu tari yang ada di Indonesia yaitu Tari Remo dari Jawa Timur. Bagaimana Asal Usul Sejarah Tari Remo ini ? Berikut informasi selengkapnya.

Sejarah Tari Remo Dari Jawa Timur

Tari Remo merupakan tarian yang mengisahkan perjuangan seorang pangeran yang berjuang di medan pertempuran. Tari Remo adalah gambaran karakter dinamis masyarakat Jawa Timur dan merupakan tarian penyambut tamu lewat gerak selamat datang khas Jawa Timur. Pada awalnya, Tari Remo adalah tari yang digunakan untuk dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring waktu, tari Remo menjadi tari pembuka ludruk, lalu menjadi tari penyambut tamu, pada khususnya tamu penting. Tari Remo sendiri asalnya dari Jombang, Jawa Timur. 

Untuk menari tari Remo ini dibutuhkan kemaskulinan karena pada umumnya tari remo dibawakan oleh penari lelaki. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, hal ini dilakukan untuk menjaga khasanah kekayaan budaya Jawa Timur. 

Disebutkan bahwa tarian remo ini di promosikan sekitar tahun 1900, yang kemudian dimanfaatkan oleh nasionalis indonesia untuk berkomunikasi kepada masyarakat.

Tari Remo Putri
Maka kemudian berkembanglah tari Remo putri yang penarinya memakai sanggul lengkap dengan satu selendang yang disampirkan di bahu, sedangkan penari Remo pria menggunakan busana khas Surabaya dan Jombang. Keindahan tari Remo adalah karakteristik dalam membuat gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Pagelaran tari Remo umumnya diiringi dengan alat musik saron, bonang, seruling dan gambang. Tari Remo sekarang bahkan berkembang menjadi tari penyambutan tamu negara seperti tari Yosakoi di Jepang.

Banyak sekali penari-penari dari berbagai daerah yang mengikuti Tari Remo dan Yosakoi, dan hal tersebut membuat keseniat tari ini banyak disukai oleh masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan kesenian Jepang, dalam hal ini Tari Yosakoi, karena kedua jenis tarian ini memiliki keindahan yang hampir sama.

Tata Gerak Tari Remo
Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.

Alat Musik dalam Tari Remo
Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari Remo sehingga menjadi satu pertunjukan yang indah dan menyenangkan dilihat. Alat-alatnya adalah gending, gender, gambang, seruling, kenong, slentem, kempul dan gong. Tarian ini menggunakan irama Suroboyo terpongan atau dengan gedong rancak, krucilan dan walang kekek. Tarian ini dapat dilakukan lebih dari satu orang, baik pria dan wanita serta dilakukan bersamaan atau juga bergantian.

Tata Busana Tari Remo
Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: 
  1. Gaya Sawunggaling, 
  2. Surabayan, 
  3. Malangan, dan 
  4. Jombangan.

Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan. Penarinya menggunakan jenis kostum yaitu sawonggaling atau gaya surabaya yang terdiri dari bagian atas hitam yang menghadirkan pakaian abad 18,celana bludru hitam dengan hiasan emas dan batik, dipinggang ada sebuah sabuk dan keris, dipaha kanan ada selendang menggantung sampai kemata kaki. Penari perempuan memakai simpul(sanggul) di rambutnya.

Keempat jenis busana ini hampir sama. Hanya saja pada Remo Surabayan menggunakan lonceng kecil di pergelangan kaki yang mengakibatkan suara yang dinamis. Mengenai celana, Surabayan mengenakan celana pendek selutut, sedangkan malangan menggunakan celana sampai mata kaki. Sedangkan untuk putri menggunakan sanggul dan mekak hitam di bagian dada.
SelengkapnyaSejarah Tari Remo Dari Jawa Timur
Ditulis oleh: Aris Fourtofour Kumpulan Sejarah Updated at : 12.49

Sejarah Candi Mendut di Magelang Jawa Tengah

Posted by Aris Fourtofour on Senin, 14 Juli 2014

Sejarah Candi Mendut di Magelang Jawa Tengah- Candi Mendut adalah merupakan sebuah candi yang terletak di Kota Magelang Jawa Tengah, tepatnya berada di jalan mayor kusen daerah kota mungkid. Candi Mendut ini berada tidak jauh dari Candi Borobudur yaitu hampir sekitar 3 kilometer. 

Sejarah Candi Mendut di Magelang Jawa Tengah

Hampir setiap hari Candi mendut ramai dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara, dikarenakan letaknya yang sangat strategis. Candi Mendut ini juga ramai dikunjungi pada hari raya Waisak, karena candi ini merupakan pusat prosesi awal acara peringatan Waisak sebelum prosesi bergerak menuju Candi Borobudur.

Sebelumnya kita telah membahas mengenai Sejarah Candi Borobudur. Nah, kali ini kita akan membahas mengenai Sejarah Candi Mendut. Candi Mendut ini ternyata memiliki keterkaitan dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon. Mengapa demikian ? Ya, karena ketiga candi tersebut terletak antara satu garis lurus di arah utara-selatan.

Lebih lanjutnya ternyata belum ada sampai saat ini yang dapat memastikan kapan Candi Mendut ini didirikan. Namun seorang ahli yang bernama J.G. de Casparis memperkirakan bahwa Candi Mendut ini dibangun pada tahun 824 M oleh raja pertama dari wangsa Syailendra. Tentunya dugaan tersebut didasari dengan sebuah kajian yang dalam. Dugaan itu didasari pada sebuah isi prasasti Karang Tengah yang berisi bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci bernama Wenuwana. J.G. de Casparis memaknai Wenuwana (hutan bambu). Hutan bambu ini kemudian diperkirakan adalah kawasan desa Mendut yang pada waktu itu masih berupa hutan bambu. Maka kemudian disimpulkan bahwa bangunan suci yang dibangun Raja Indra dari dinasti Syailendra tersebut adalah Candi Mendut. Dan menurut perkiraan, sejarah candi mendut ini usianya jauh lebih tua dari candi Borobudur. Diperkirakan usia Candi Mendut ini lebih tua dari pada Candi Borobudur yang sama-sama kita kenal.

Dalam segi arsitektur bangunannya, Candi Mendut ini mempunyai denah dasar berbentuk segi empat. Tinggi bangunan seluruhnya 26,40 m. Tubuh candi ini berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Di permukaan batur terdapat selasar yang cukup lebar dan dilengkapi dengan langkan. Dinding kaki candi dihiasi dengan 31 buah panel yang memuat berbagai relief cerita, pahatan bunga dan sulur-suluran yang indah.

Di beberapa tempat di sepanjang dinding luar langkan terdapat jaladwara atau saluran untuk membuang air dari selasar. Jaladwara terdapat di kebanyakan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti di Candi Barabudhur, Candi Banyuniba, Candi Prambanan dan di Situs Ratu Boko. Jaladwara di setiap candi memiliki bentuk yang berbeda-beda.

Tangga menuju selasar terletak di sisi barat, tepat di depan pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi dilengkapi dengan bilik penampil yang menjorok keluar. Atap bilik penampil sama tinggi dan menyatu dengan atap tubuh candi. Tidak terdapat gapura atau bingkai pintu pada dinding depan bilik penampil. Bilik itu sendiri berbentuk lorong dengan langit-langit berbentuk rongga memanjang dengan penampang segi tiga.

Dinding pipi tangga dihiasi dengan beberapa panil berpahat yang menggambarkan berbagai cerita. Pangkal pipi tangga dihiasi dengan sepasang kepala naga yang mulutnya sedang menganga lebar, sementara di dalam mulutnya terdapat seekor binatang yang mirip singa. Di bawah kepala naga terdapat panil begambar makhluk kerdil mirip Gana.

Atap candi itu terdiri dari tiga kubus yang disusun makin ke atas makin kecil, mirip atap candi-candi di Komplek Candi Dieng dan Gedongsongo. Di sekeliling kubus-kubus tersebut dihiasi dengan 48 stupa kecil. Puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya.

Di sudut selatan, di halaman samping Candi Mendut terdapat batu-batu reruntuhan yang sedang diidentifikasi dan dicoba untuk direkonstruksi.

Hampir semua bagian candi dapat kita temui relief-relief indah dengan berbagai ukuran dan cerita. Semua cerita pada relief candi menggambarkan kehidupan. Ada cerita tentang kehidupa Budha, dan cerita lainnya.

Nah, demikianlah informasi singkat mengenai Sejarah Candi Mendut di Magelang Jawa Tengah, mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat serta dapat menambah wawasan pengetahuan sobat semua.

SelengkapnyaSejarah Candi Mendut di Magelang Jawa Tengah
Ditulis oleh: Aris Fourtofour Kumpulan Sejarah Updated at : 23.46

Peninggalan Bersejarah di Indonesia

Posted by Aris Fourtofour on Minggu, 13 Juli 2014

Peninggalan Bersejarah di Indonesia- Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Banyak sekali kisah sejarah dan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Indonesia yang harus kita ketahui. Kita dapat mengetahui kehidupan manusia pada masa lalu lewat peninggalan-peningalan sejarah yang ditemukan. Peninggalan tersebut adalah aset budaya yang harus kita abadikan.

Peninggalan Bersejarah di Indonesia

Adapun peninggalan sejarah yang ada di Indonesia antara lain :

A. Candi - Candi
1. Candi Muara Tikus : di Jambi.
2. Candi Gunung Wukir : di Magelang, Jawa Tengah.
3. Candi Kalasan : di Yogyakarta.
4. Candi Condong songo : di Semarang, Jawa Tengah
5. Candi Mendut : di Magelang, Jawa Tengah
6. Candi Borobudur : di Magelang, Jawa Tengah
7. Candi Sewu : di Magelang, Jawa Tengah.
8. Candi Pawon : di Magelang. Jawa Tengah
9. Candi Sari : di Magelang, Jawa Tengah.
10. Candi Ngawen : di Magelang, Jawa Tengah
11. Candi Dieng : di Jawa Tengah.
12. Candi Prambanan : di Klaten, Jawa Tengah
13. Candi Padas : di Tampak Siring, Bali.
14. Candi Kidal : di Malang, Jawa Timur.
15. Candi Singosari : di Malang, Jawa Timur.
16. Candi Jago : di Malang, Jawa Timur.
17. Candi Sumberjati : di Blitar, Jawa Timur.
18. Candi Penataran : di Blitar, Jawa Timur.
19. Candi Sawentar : di Blitar. Jawa Timur.
20. Candi Surawana: di Pare, Jawa Timur.
21. Candi Tigawangi : di Pare. Jawa Timur.
22. Candi Bajangratu : di Mojokerto, Jawa Timur.
23. Candi Tikus : di Mojokerto, Jawa Timur.
24. Candi Waringin Lawang : di Mojokerto, Jawa Timur
25. Candi Cangkuwang : di Jawa Barat.
26. Candi Berahu : di Mojokerto, Jawa Timur.
27. Candi Jabung : di Kraksan, Jawa Timur.
28. Candi Raja Jongrang : di Klaten, Jawa Tengah.
29. Candi Ijo : di Kalimantan Selatan

B. Kitab (Buku - Buku)
1. Kitab Mahabarata, dikarang oleh Resi Wiyasa.
2. Kitab Ramayana, dikarang oleh Mpu Walmiki.
3. Arjuna Wiwaha, di karang oleh Mpu Kanwa (pada zaman kerajaan Airlangga, Kahuripan).
4. Kitab .Smaradahana, di karang oleh Mpu Darmaja (pada zaman Raja Kameswara I, Kediri.
5. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Mpu Sedah dan empu panuluh (pada jaman Raja Jaya Baya, Kediri).
6. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Mpu Prapanca (pada zaman Majapahit).
7. Kitab,Sotasoma, di karang oleh Mpu Tantular (pada zaman Majapahit).

C. Arca - Arca
1. Arca Buddha : di Candi Mendut.
2. Arca Rara Junggrang : di Candi Prambanan.
3. Arca Ken Dedes : di Candi Singasari.
4. Arca Airlangga: di Candi Belahan.
5. Arca Kertajasa : sebagai Harihara.
6. ArcaTribhuwana : di Candi Arimbi.
7. Arca Suhita : dari Kerajaan Majapahit.
8. Arc Gajah Mada : dari Kerajaan Majapahit.
9. Arca Ken. Arok : dari Kerajaan Singasari.
10. Arca Kartanegara : dari kerajaan singasari

D. Prasasti - Prasasti
1. Prasasti Muara Kaman, di tepi sungai Mahakam. Kalimantan Timur, tentang Kerajaan Kutai, didirikan kira-kira tahun 400 M
2. Prasasti Ciaruteun, di daerah Bogor, Jawa Barat.
3. Prasasti Kebon Kopi, di daerah Bogor, Jawa Barat.
4. Prasasti Jambu, di daerah Bogor, JawaBarat.
5. Prasasti Pasir Awi, di daerah Bogor, Jawa Barat.
6. Prasasti Muara Cianten, di daerah Bogor, Jawa Barat.
7. Prasasti Tugu, di daerah Bogor, JawaBarat.
8. Prasasti Lebak, di daerah Bogor.Jawa Barat.
9. (Dari nomor 2 sampai dengan nomor 8 adalah prasasti-prasasti tentang Kerajaan Tarumanegara
10. Prasasti Kedukan Bukit (684 M), di dekat Palembang.
11. Prasasti Talang Tuo (684 M), di dekat Palembang.
12. Prasasti Telaga Batu, di dekat Palembang.
13. Prasasti Karang Berahi, di daerah Jambu Hulu.
14. Prasasti Palas Pasemah, di daerah Lampung selatan.
15. (Dari nomor 9 sampai dengan nomor 13 adalah prasasti-prasasti tentang kerajaan Sriwijaya).
16. Prasasti Dinoyo (760 M) dekat Malang, tentang kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan.
17. Prasasti Canggal (732 M) dekat Magelang, tentang Kerajaan Mataram Hindu dengan Raja Sanjaya.
18. Prasasti Kalasan (778 M) dekat Yogyakarta, tentang Kerajaan Mataram Hindu dengan Raja Rakai Panangkaran.
19. Prasasti Kedu (907 M), dari Raja Blitung, Kerajaan Mataram Hindu.

E. Bangunan Mesjid
1. Mesjid Raya, di Aceh, Daerah Istimewa Aceh.
2. Mesjid Demak, di Demak, Jawa Tengah.
3. Mesjid Banten, Jawa Barat.
4. Mesjid Katangka, di Katangka, Sulawesi selatan.
5. Mesjid Azisi, di langkakt. Sumatra Utara.
6. Mesjid Sunan Ampel, di Surabaya, Jawa timur.
7. Mesjid Sunan Giri, di Gresik Jawa Timur.
8. Mesjid Istiqlal, di Jakarta.

F. Istana Raja (Keraton)
1. Keraton Susuhunan, di Surakarta.
2. Keraton Mangkunegaran, diSurakarta.
3. Keraton Kasultanan, di Yogyakarta.
4. Keraton Paku Alam, di Yogyakarta.
5. Keraton Kasepuhan, di Cirebon.
6. Kanoman, di Cirebon.
7. Karaton Maimun, di Medan.
8. Istana Raja Goa, di Sulawesi Selatan.
9. Istana Raja Khungkung, di Bali.

G. Benteng – Benteng Bersejarah
1. Benteng, Inang Bale : di Aceh, Daerah Istimewa Aceh.
2. Benteng, Bonjol : di Bonjol Sumatra Barat
3. Benteng Duurstede : di Saparua, Maluku.
4. Benteng Surason : di Banten, JawaBarat.
5. Benteng Jagaraga : di Bali
6. Benteng Kastilia : di Saparua Maluku
7. Benteng Marlbouegh : di Bangkulu
8. Benteng Sombaupu : di Sulawesi Selatan

H. Makam-Makam Peninggalan Sejarah.
1. Makam Raja – raja demak Demak, di Demak, Jawa Tengah.
2. Makam Raja – raja Mataram. di Imogiri.
3. Makam Raja – raja Mangkunegara, – di istana Giri Tengah.
4. Makam Maulana Malik Ibrahim, di Gresik, Jawa timur.
5. Makam Sunan Giri, di Gresik, Jawa Timur.
6. Makam Sunan Ampel, di Surabaya Jawa Timur.
7. Makam Raja – raja Banten, di Banten. Jawa Barat.
8. Makam Sunan Gunung J ati, di Cirebon.
9. Makam Sunan Kalijaga, di Kadilangi Demak, Jawa Tengah.
10. Makam Raja – raja Bugis, di Watang Lamuru. Katangga, Sulawesi Selatan.
11. Makam Raja – raja Goa. di Katangga, Sulawesi Selatan.
12. Makam Malikus Saleh, di Aceh, Daerah Istimewa Aceh.

I.  Karya Seni 
1. Tarian tradisional
2. Dongeng atau cerita rakyat
3. Lagu atau tembang daerah
4. Seni pertunjukan

J.  Adat Istiadat
Selain dari itu ada peninggalan yang berupa Adat Istiadat. Yaitu sebuah kepercayaan yang berhubungan erat dengan masyarakat. Secara pengertiannya Adat istiadat merupakan tradisi kepercayaan yang dilakukan suatu masyarakat secara turun temurun. Salah satu bentuk dari adat istiadat adalah upacara adat. Contohnya yaitu Upacara Sedekah Laut di Yogyakarta, Upacara Lompat Batu di Pulau Nias, Upacara Sedekah Laut di Yogyakarta, dan Upacara Pembakaran Mayat (Ngaben) di Bali.
SelengkapnyaPeninggalan Bersejarah di Indonesia
Ditulis oleh: Aris Fourtofour Kumpulan Sejarah Updated at : 00.57

Sejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia

Posted by Aris Fourtofour on Kamis, 26 Juni 2014

Sejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia- Pemilu atau pemilihan umum adalah merupakan salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk memilih calon pemimpin di daerah-daerah ataupun juga kepala negara (presiden). Namun tahukah Sobat Sejarah Pemilu di Indonesia ? Apa yang melatarbelakangi lahirnya pemilu di Indonesia ? Berikut ini Kumpulan Sejarah akan mengulas secara lengkap mengenai Sejarah Pemilu. Berikut informasi selengkapnya.

Sejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia

Pemilu pertama kali dilaksanakan pada tahun1955 di Indonesia. Hal ini merupakan sebuah hal yang dianggap demokratis oleh rakyat Indonesia, karena rakyat sudah bisa memilih secara langsung wakil rakyat yang menjadi pilihannya. Pemilu pertama ini dilaksanakan ketika kondisi keamanan negara saat itu masih tidak kondusif. Mungkin ada yang masih ingat saat itu beberapa daerah mengalami kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam kondisi seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman. 

Pemilu tahun 1955 bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah.

Pemilu selanjutnya dilaksanakan tanggal 5 Juli tahun 1971. Pemilu ini adalah Pemilu pertama setelah orde baru, 10 partai politik sudah turut berpartisipasi. Lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Pada tahun 1975, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar, diadakanlah fusi (penggabungan) partai-partai politik, menjadi hanya dua partai politik (yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia) dan satu Golongan Karya.

Pemilu-Pemilu berikutnya dilangsungkan pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Pemilu-Pemilu ini diselenggarakan dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Pemilu-Pemilu ini seringkali disebut dengan Pemilu Orde Baru. Sesuai peraturan Fusi Partai Politik tahun 1975, Pemilu-Pemilu tersebut hanya diikuti dua partai politik dan satu Golongan Karya. Pemilu-Pemilu tersebut kesemuanya dimenangkan oleh Golongan Karya.

Pemilu berikutnya, sekaligus Pemilu pertama setelah runtuhnya orde baru, yaitu Pemilu 1999 dilangsungkan pada tahun 1999 (tepatnya pada tanggal 7 Juni 1999) di bawah pemerintahan Presiden BJ Habibie dan diikuti oleh 48 partai politik.

Lima besar Pemilu 1999 adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional.

Walaupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan meraih suara terbanyak (dengan perolehan suara sekitar 35 persen), yang diangkat menjadi presiden bukanlah calon dari partai itu, yaitu Megawati Soekarnoputri, melainkan dari Partai Kebangkitan Bangsa, yaitu Abdurrahman Wahid (Pada saat itu, Megawati hanya menjadi calon presiden). Hal ini dimungkinkan untuk terjadi karena Pemilu 1999 hanya bertujuan untuk memilih anggota MPR, DPR, dan DPRD, sementara pemilihan presiden dan wakilnya dilakukan oleh anggota MPR.

Pemilihan Umum Indonesia 2004 adalah pemilu pertama yang memungkinkan rakyat untuk memilih presiden secara langsung, dan cara pemilihannya benar-benar berbeda dari Pemilu sebelumnya. Pada pemilu ini, rakyat dapat memilih langsung presiden dan wakil presiden (sebelumnya presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR yang anggota-anggotanya dipilih melalui Presiden). Selain itu, pada Pemilu ini pemilihan presiden dan wakil presiden tidak dilakukan secara terpisah (seperti Pemilu 1999) - pada pemilu ini, yang dipilih adalah pasangan calon (pasangan calon presiden dan wakil presiden), bukan calon presiden dan calon wakil presiden secara terpisah.

Pahun 2009 merupakan tahun Pemilihan Umum (pemilu) untuk Indonesia. Pada tanggal 9 April, lebih dari 100 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam pemilihan legislatif untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pada tanggal 8 Juli, masyarakat Indonesia sekali lagi akan memberikan suara mereka untuk memilih presiden dan wakil presiden dalam pemilihan langsung kedua sejak Indonesia bergerak menuju demokrasi di tahun 1998. Jika tidak ada calon yang mendapatkan lebih dari 50 persen suara, maka pemilihan babak kedua akan diadakan pada tanggal 8 September.

Hasil pemilihan anggota DPR pada tanggal 9 April tidak banyak memberikan kejutan. Mayoritas masyarakat Indonesia sekali lagi menunjukkan bahwa mereka lebih memilih partai nasional dibandingkan partai keagamaan. Tiga partai yang mendapatkan jumlah suara terbanyak bukan merupakan partai keagamaan dan mereka adalah Partai Demokrat (PD) dengan 20,8 persen perolehan suara, Golkar dengan 14,45 persen perolehan suara, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan 14,03 persen perolehan suara. Empat partai Islam – Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Nasional (PKB) masing-masing hanya memperoleh 7,88 persen; 6,01 persen; 5,32 persen; dan 4,94 persen suara. Dua partai lainnya (Gerindra dan Hanura), yang juga bukan merupakan partai agama, memperoleh 4,46 persen dan 3,77 persen suara.

Pemilu tanggal 9 April juga mengurangi jumlah partai yang duduk di DPR. Hanya sembilan partai yang disebutkan di atas yang mendapatkan kursi di DPR. Sementara 29 partai lainnya gagal mencapai ketentuan minimum perolehan suara pemilu sebesar 2,5 persen dan tidak mendapatkan kursi di DPR. Hal ini diharapkan mengurangi jumlah partai politik yang akan bersaing untuk pemilu tahun 2014.

Namun dalam hal kualitas pengelolaan pemilu, pemilu 2009 disebut sebut sebagai pemilu yang terburuk selama sejarah Indonesia.

Nah, kemudian bagaimana dengan pemilu pada tahun 2014 ini ? Kita akan menyaksikan sejarah baru yang terjadi dalam pemilu di Indonesia. Jangan sampai tidak berpartisipasi dalam pemilu kali ini, pilihlah sesuai hati nurani anda. Terakhir, Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan Sobat semua mengenai Sejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia.
SelengkapnyaSejarah Pelaksanaan Pemilu di Indonesia
Ditulis oleh: Aris Fourtofour Kumpulan Sejarah Updated at : 11.44

Prabowo dan Kisah Kerusuhan Mei 1998 (Tragedi Tri Sakti)

Posted by Aris Fourtofour on Selasa, 24 Juni 2014

Prabowo dan Kisah Kerusuhan Mei 1998 (Tragedi Tri Sakti)- Masih ingatkah anda dengan peristiwa yang terjadi pada 13-14 Mei 1998 ? Kerusuhan yang banyak menelan korban jiwa pada saat itu bernama tragedi tri sakti. Kerusuhan ini dilakukan oleh mahasiswa tri sakti yang menuntut Soeharto untuk segera turun dari jabatannya. Sekarang memasuki pilpres 2014 ada hal menarik menyangkut kasus tragedi tri sakti ini, dimana salah satu calon presiden yaitu Prabowo disangkut pautkan atau disangkalkan menjadi dalang atas isu HAM yang terjadi pada masa 1998 tersebut.


Apa sebenarnya yang terjadi saat kerusuhan tersebut ? Apakah benar Prabowo Subianto menjadi dalang peristiwa tersebut ? Oleh sebab itu Kumpulan Sejarah akan memberikan informasi yang mudah-mudahan dapat membantu menjelaskan fakta yang sebenarnya kepada Sobat semua. Jangan hanya mendengar, tapi ketahuilah dahulu fakta yang sebenarnya.

Satu setengah tahun berakhirnya peristiwa Kerusuhan Mei 1998, berita kasus Kerusahan Mei 1998 ini kembali mengemuka dengan beredarnya salinan surat Mensesneg RI bernomor B597/M.Sesneg/09/1999 tanggal 13 September 1999, tentang jawaban Presiden RI, B.J. Habiebie, yang ditujukan kepada Ketua Komnas HAM, Marzuki Darusman, bocor ke media.

Dikatakan dalam surat itu, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan, Prabowo tidak mempunyai cukup bukti yang memperkuat dugaan keterlibatannya dalan peristiwa Kerusuhan Mei 1998 lalu (kalimat lengkapnya berbunyi; ...berdasarkan penyelidikan yang kami lakukan ternyata tidak cukup bukti yang memperkuat dugaan tersebut).

Walaupun dikatakan tidak mempunyai cukup bukti kuat atas dugaan keterlibatan Prabowo dalam peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Pemerintah telah memberhentikan Letjen TNI Prabowo dari jabatannya sebagai Panglima Kostrad sekaligus anggota TNI AD.

Untuk menemukan aktor intelektual atau siapa yang sejatinya bertanggungjawab atas peristiwa kerusuhan Mei 1998, dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Hasil dari temuan TGPF juga menyebutkan bahwa semua peristiwa tersebut berkaitan erat dengan Pemilu 1997, krisis ekonomi, SU MPR 1998, demonstrasi mahasiswa, penculikan aktivis, tertembaknya mahasiswa Trisakti, hingga pertarungan memperebutkan kepemimpinan nasional.

Begitu halnya ketika merujuk hasil rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah, tidak menyebutkan fakta keterbuktian keterlibatan Prabowo atas tragedi Kerusuhan Mei 1998, tapi semua temuannya itu lebih didasari pada analisis. Terkait hal ini Prabowo menilai bahwa hasil temuan TGPF lebih merupakan opini, ketimbang fakta.

Termasuk ketika TGPF merekomendasikan menyelidiki pertemuan di Makostrad pada tanggal 14 Mei untuk mengetahui dan mendalami peranan Letjen Prabowo dan pihak-pihak lain atas peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Dalam pertemuan di Makostrad itu sendiri dihadiri sejumlah tokoh yang dikenal cukup vokal mengkritisi kebijakan represif rezim Soeharto, seperti advokad terkenal Adnan Butung Nasution, WS Rendra, Setiawan Djody dan Bambang Widjojanto.

Terkait dengan pertemuan di Makostrad, Prabowo membaliknya dengan logika, bahwa kerusuhan itu terjadi pada tanggal dari 13 dan 14 Mei. Sementara pertemuannya dengan sejumlah tokoh masyarakat yang dikenal banyak mengkritisi kebijakan rezim Orde Baru ini dilakukan pada 14 Mei. Jadi logika ini menurut Prabowo dari logika ini tidak nyambung.

Sementara dalam pertemuan atas inisiatif penyair WS Rendra ini mereka bermaksud ingin mencari tahu kebenaran berita maupun munculnya opini yang menyeret nama Prabowo sebagai aktor intelektual berada di balik peristiwa penembakan mahasiswa Trisaksi pada 12 Mei dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Begitu halnya ketika dicecar pertanyaan oleh Adnan Buyung Nasution yang ikut dalam pertemuan di Makostrad, Prabowo membantah terlibat dalam kerusuhan tersebut maupun penembakan mahasiswa Trisakti .

Lagi-lagi di sini Prabowo menjadi korban analisis yang dianggap dan dituding bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Dalam tudingannya itu beragam stigmatisasi ditempelkan dalam diri mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini sebagai sosok yang anti China, anti Kristen.

Bahkan sampai muncul dihembuskankan terjadi polarisasi dan rivalitas di tubuh kepemimpinan ABRI antara tentara ‘hijau’ dan tentara ‘merah putih’. Di sini Prabowo hanyalah tumbal dan tersandera jadi korban analisis dan korban pembentukan opini atas peristiwa tersebut, ketimbang fakta.

Menjelang Pilpres 2014 dimulai jangan heran jika kemudian nama Prabowo Subianto kembali diungkit-ungkit dan atas peristiwa berdarah tersebut. Semoga dengan membaca artikel ini anda dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Terlalu banyak kampanye hitam yang harus diluruskan dan agar ini tidak menjadi fitnah bagi calon presiden yang akan bertanding pada pemilu nantinya.

Sumber : http://www.tribunnews.com/tribunners/2014/05/13/prabowo-dan-kisah-kerusuhan-13-14-mei-1998
SelengkapnyaPrabowo dan Kisah Kerusuhan Mei 1998 (Tragedi Tri Sakti)
Ditulis oleh: Aris Fourtofour Kumpulan Sejarah Updated at : 22.39